DEFINISI NIAT DAN TINGKATANNYA

| Minggu, 28 September 2014
picture taken from iluvislam.com


Hakikat Niat Atau Definisi Niat

Kata Niat dalam bahasa Arab berarti mengingini sesuatu dan bertekad hati untuk mendapatkannya. Al-Azhari mengatakan bahwa kalimat ( Nawaakallahu ) artinya adalah ’semoga Allah menjagamu,` Orang Arab juga sering berkata (Nawaakallahu) dengan maksud ’semoga Allah menemanimu dalam perjalanan dan menjagamu.’ Dengan kata lain ( Niyyatu ) berarti kehendak atau ( Alqosdu ), yaitu yakinnya hati untuk melakukan sesuatu dan kuatnya kehendak untuk melakukannya tanpa ada keraguan. Sehingga ( Niyyatu ) dan menginginkan sesuatu ( Iroodatulfi`li ) adalah sinonim. Kedua kata tersebut sama-sama digunakan untuk menunjukkan pekerjaan yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi.

Secara bahasa, niat berarti ‘sengaja’ atau ‘sesuatu yang dimaksudkan’ atau ‘tujuan dari keinginan’. Sementara ikhlas berasal dari kata khalasha yang maknanya ialah kemurnian, kejernihan, atau hilangnya segala sesuatu yang mengotori. Sehingga secara istilah syara’, ikhlas adalah membersihkan niat dalam beribadah semata-mata hanya karena Allah.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Tingkatan Niat:
  • Tingkatan Pertama ialah menjadikan ridho Allah sebagai satu-satunya penggerak amal yang dikerjakan. Itulah tingkatan yang utama bagi seorang mukmin.

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al An’aam: 162)

Termasuk pula dalam tingkatan ini ialah mereka yang meniatkan setiap gerak dan diamnya karena mengharap ridho Allah semata, dan juga mereka yang beribadah karena takut akan siksa neraka dan berharap kenikmatan surga-Nya. Karena Allah SWT pun memerintahkan para hamba-Nya untuk takut terhadap azab-Nya di neraka, serta mengejar nikmat-Nya di surga.

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 24)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

  • Tingkatan Kedua ialah mereka yang menjadikan niat mengharap ridho Allah itu bercampur dengan tujuan lainnya yang bersifat duniawi namun masih dalam lingkup fillah (dalam rangka karena Allah SWT) pada penghujungnya. Namun tujuan-tujuan lain tersebut tidak boleh menyamai atau bahkan lebih besar daripada niat karena Allah. Misalnya seseorang yang berpuasa dengan harapan ridho Allah dan harapan untuk kesehatan (dimana dengan sehat maka ibadahnya akan lebih terjaga), atau orang yang berwudhu untuk ridho Allah dan bercampur dengan keinginan menyegarkan badan (badan yang segar akan turut menyegarkan tubuh untuk mengingat Allah). Amal dengan niat bercampur seperti ini tidak dilarang, akan tetapi pahala yang didapat tidak sebesar mereka yang berada di tingkatan niat pertama.

“Sesungguhnya apabila orang-orang yang berperang itu memperoleh harta rampasan, maka mereka mendapatkan terlebih dahulu dua pertiga balasannya (di dunia), dan jika tidak memperoleh apa-apa (harta rampasan), maka balasan bagi mereka menjadi utuh (di akhirat).” (HR. Muslim)

Allah SWT pun tidak melarang perjalanan ibadah haji yang juga ditujukan untuk berniaga.

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 198)

Sesungguhnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan, memiliki manfaat dunia dan akhirat. Namun akan lebih baik jika manfaat duniawi tersebut cukup dijadikan sebagai factor tambahan untuk penguat semangat, dan tidak menjadi sebab utama dalam beribadah.

  • Tingkatan Ketiga ialah niat untuk mencari ridho Allah yang bercampur dengan keinginan lain yang bersifat duniawi dan diluar dari lingkup fillah. Misalnya orang yang sholat dengan harapan ridho Allah dan juga keinginan untuk dipuji orang lain (riya’). Tingkatan ketiga ini adalah terlarang, niat yang bercampur dengan riya akan membatalkan pahala dari amal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi: “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada serikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukKu lantas ia menserikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainKu, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia untuk yang dia serikatkan.” (HR. Ibnu Majah)

Ada seorang datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang dijalan Allah untuk mencari pahala dan juga agar (namanya) dikenang manusia lainnya, apa yang akan ia peroleh?” Nabi SAW menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Lalu orang tersebut mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan semua jawaban dari Nabi juga sama: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali dengan niat ikhlas dan hanya mengharapkan balasan dari-Nya semata.” (HR. An Nasa’i)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).” (QS. Al Baqarah: 264)

  • Tingkatan Keempat adalah niat yang tidak ada di dalamnya harapan mencari ridho Allah atau memperoleh pahala, akan tetapi semata-mata mengejar kemanfaatan dunia. Niat seperti ini tidak memperoleh bagian pahala dari Allah, akan tetapi bila amalannya itu sesuai dengan sebab-akibat sunatullah yang Allah telah tetapkan, maka ia berkesempatan memperoleh manfaat dunianya saja.

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia (saja) dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka kerjakan di dunia dan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15 – 16)

Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Quran hanyalah karena engkau.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Quran supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak..

Next
▲Top▲